Belajar Seru dengan Geografi (Jarufi)
Teori Pembentukan Tata Surya dan Teori Pembentukan Bumi
Bumi dan seisinya termasuk dalam tata surya mengalami
proses dalam pembentukannya, namun belum jelas bagaimana pembentukan yang
sesungguhnya sehingga para ahli pun mencetuskan beberapa teori dalam
pembentukan bumi dan tata surya.
Fase-fase
pembentukan bumi terdiri atas delapan fase, yaitu sebagai berikut.
1) Fase awal mula
jadi alam semesta (big bang). Pada saat big bang, bumi terwujud tetapi
bahan-bahannya telah ada bersama dengan bahan-bahan buntang dan planet-planet
lain.
2) Fase pembentukan
bintang-bintang. Matahari dan bumi sebagai calon tata surya belum dilahirkan
3) Fase supernova.
Yaitu ledakan dari suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi yang
teramat besar.
4) Fase pendinginan
nebula. Barulah setelah ada kejutan lagi dari supernova yang ada di sekitarnya,
gravitasi antarbahan nebula mulai aktif. Ketika gravitasi mulai bekerja,
pembentukan sebuah bintang dan atau matahari mulai terjadi.
5) Fase pembentukan
matahari dan cincin planet. Sebagian debu dan gas di bagian dalam nebula mulai
berkumpul dan bergabung kemudian secara perlahan-lahan.
6) Fase akresi.
Pada saat ini bumi dengan susunan materi yang seragam belum ada daratan dan
atau lautan.
7) Fase pembentukan
bumi. Bahan bahan dari meteor yang memiliki berat jenis yang lebih tinggi mulai
tenggelam ke pusat bumi. Akibatnya, terbentuklah inti bumi.
8) Pembentukan
atmosfer, samudera dan makhluk hidup.
Jika berdasarkan
teori yang ada, matahari tersebut awalnya terbentuk dari gumpalan material debu
dan gas yang mengandung banyak mineral dan dari sini juga bersamaan dengan
pembentukan bumi tersebut sehingga terdapat 5 teori pembentukan Bumi yang umum
dikenal dimana pembentukannya bersamaan dengan tata surya. Berikut ini
penjelasan dari setiap teori.
Yang pertama :
Teori pasang surut
gas pertama kali dikenalkan oleh James Jeans dan Harold Jeffreys tahun 1918.
Menurut mereka, sebuah bintang besar mendekati Matahari dalam jarak dekat dan
menyebabkan terjadinya pasang surut pada tubuh Matahari yang saat itu masih
berupa gas. Saat bintang tersebut mendekat, akan terbentuk gelombang raksasa
pada tubuh Matahari yang disebabkan oleh gaya tarik bintang. Gelombang tersebut
mencapai ketinggian yang luar biasa dan menjauh dari inti Matahari menuju
bintang tersebut. Gelombang yang membentuk lidah pijar akan mengalami perapatan
gas hingga terpecah menjadi planet-planet.
Yang kedua :
Teori ledakan besar
atau big bang mungkin menjadi salah satu yang paling terkenal. Teori ini
menyebutkan bahwa Bumi terbentuk selama puluhan miliar tahun. Mulanya, terdapat
gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Putaran tersebut
menyebabkan bagian-bagian kecil dan ringan dari kabut terlempar ke luar dan
berkumpul membentuk cakram raksasa. Di satu waktu, gumpalan kabut raksasa itu
meledak membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama kurang-lebih 4,6 miliar
tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk Galaksi Bima Sakti yang di
dalamnya terdapat Tata Surya. Bagian ringan yang terlempar keluar di awal
mengalami kondensasi hingga membentuk gumpalan yang mendingin dan memadat
menjadi planet-planet, termasuk bumi.
Yang ketiga :
Teori pembentukan
Bumi yang selanjutnya dinamakan dengan teori kabut nebula. Teori ini
dikemukakan oleh Immanuel Kant di tahun 1755 yang kemudian disempurnakan oleh
Pierre de Laplace di tahun 1796. Karena itu, teori ini juga sering dikenal
sebagai teori kabut Kant-Laplace. Teori ini menyebutkan bahwa di alam semesta
terdapat gas yang
berkumpul menjadi
kabut nebula. Gaya tarik-menarik antargas membentuk kumpulan kabut yang sangat
besar dan berputar semakin cepat. Proses perputaran ini mengakibatkan materi
kabit di bagian khatulistiwa terlempar dan berpisah, kemudian memadat karena
pendinginan.
Yang ke empat :
Gambar 4. Teori Planetesimal
Sumber : dosenpendidikan.com
Di awal abad ke-20,
seorang ahli astronomi Amerika Forest Ray Moulton beserta ahli geologi Thomas
C. Chamberlain mengemukakan teori planetesimal. Teori ini menyebutkan bahwa
Matahari tersusun dari gas yang bermassa besar. Pada satu titik, bintang lain
yang berukuran hampir sama melintas dekat dengan Matahari sehingga hampir
menjadi tabrakan. Akibatnya, gas dan materi ringan di bagian tepi Matahari dan
bintang tersebut menjadi tertarik. Materi yang terlempar mulai menyusut dan
membentuk gumpalan-gumpalan yang dinamakan dengan planetesimal. Planetesimal
tersebut mendingin dan memadat hingga akhirnya menjadi planet-planet yang
mengelilingi Matahari.
Yang ke lima :
Gambar 5. Teori Bintang Kembar
Sumber : fyine.com
Teori pembentukan
Bumi yang terakhir dikenal dengan sebutan teori bintang kembar. Teori ini
dicetuskan oleh ahli astronomi Raymond Arthur Lyttleton. Menurutnya, galaksi
merupakan kombinasi dari bintang kembar. Salah satu bintang tersebut meledak
dan menyebabkan banyak material yang terlempar. Karena bintang yang tidak
meledak memiliki gaya gravitasi yang kuat, sebaran pecahan ledakan bintang
lainnya mengelilingi bintang tersebut. Bintang yang tidak meledak kemudian
dikenal dengan Matahari, sementara pecahan-pecahannya adalah planet yang
mengelilinginya.
Kemudian setelah
bumi terbentuk, maka akan ada pembentukan bagian dalam bumi atau permukaan bumi
itu sendiri. Berikut ini beberapa teori dari pembentukan permukaan bumi.
1) Teori Kontraksi
dan Pemuaian (Contraction and Expansion Theory)
Teori ini pada
awalnya dicetuskan oleh Descrates (1596-1650) dan kemudian di dukung oleh James
Dana (1847) dan Elie de Beaumont (1852). Descartes menyebutkan bahwa bumi terus
mengalami penyusutan dari masa ke masa karena adanya proses pendinginan. Akibat
dari proses penyusutan ini permukaan bumi mengkerut dan terbentuklah relief
berupa gunung, lembah dan dataran. Analogi teori ini diadopsi dari kulit buah
apel yang mengering. Dari teori ini dapat dijelaskan mengenai proses
terbentuknya lipatan pada permukaan bumi, namun teori belum dapat menjelaskan
proses terbentuknya daerah-daerah tekanan.
2) Teori Dua Benua
(Laurasia-Gondwana Theory)
Teori yang
dikemukakan oleh Edward Zuess pada tahun 1884 ini menyebutkan bahwa bumi ini
pada awalnya terdiri atas dua benua yang sangat besar yaitu Laurasia di bagian
kutub utara dan Gondwana pada bagian kutub selatan. Kedua benua ini terus
mengalami pergerakan ke arah ekuator bumi hingga pada akhirnya terpecah menjadi
beberapa benua yang lebih kecil. Disebutkan Laurasia terpecah menjadi benua
Asia, Eropa dan Amerika Utara, sedangkan Gondwana terpecah menjadi benua
Afrika, Australia dan Amerika Selatan.
3) Teori
Pengapungan Benua (Continental Drift Theory)
Pada tahun 1912,
Alfred Wegner mencetuskan teori pengapungan benua ini. Ia menyebutkan bahwa
pada awalnya hanya terdapat satu benua yang sangat besar dimuka bumi yang
disebut Pangea. Kemudian Pangea ini terpecah dan terus mengalami perubahan
melalui pergerakan dasar laut. Gerakan sentripugal dari rotasi bumi menyebabkan
pecahan-pecahan pangea tersebut bergerak ke arah barat menuju ekuator. Teori
ini didukung dengan bukti-bukti bahwa terdapatnya kesamaan garis pantai, batuan
dan fosil antara Afrika bagian barat dengan Amerika Selatan bagian timur.
4) Teori Konveksi
(Convection Theory)
Teori konveksi ini
pertama kali dicetuskan oleh Arthur Holmes sekitar tahun 1927 dan kemudian
dikembangkan oleh Harry H. Hess dan Robert Diesz. Teori ini menyebutkan bahwa
terdapat arus konveksi dari dalam mantel bumi yang terdiri dari massa berupa
lava. Ketika arus konveksi ini membawa lava sampai ke permukaan bumi di bagian
punggung tengah samudra (mid oceanic ridge), akan menyebabkan lava tersebut
membeku dan membentuk lapisan kulit bumi yang baru sehingga menggeser dan
menggantikan kulit bumi yang lama. Teori ini didukung dengan adanya bukti bahwa
terdapatnya bagian mid oceanic ridge itu sendiri, seperti mid Atlantic Ridge
and Pacific Atlantic Ridge. Selain itu berdasarkan sebuah penelitian mengenai
umur laut juga dibuktikan bahwa semakin jauh dari punggung tengah samudera,
umur batuan-batuannya semakin tua.
5) Teori Lempeng
Tektonik (Tectonic Plate Theory)
Teori yang
dikemukakan oleh Tozo Wilson sekitar tahun 1965 ini menyebutkan bahwa kulit
bumi terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang berada di atas lapisan
astenosfer, dan lempeng-lempeng pembentuk kulit bumi ini selalu bergerak karena
adanya pengaruh arus konveksi dari lapisan astenosfer. Litosfer bumi terdiri
dari dua lempeng yaitu lempeng benua dan lempeng samudera. Lempeng samufdera
tersusun oleh batuan basa yang dapat dijumpai di dasar samudera, sedangkan
lempeng benua tersusun oleh batuan asam. Berdasarkan arah pergerakan lempeng
tektonik ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
a) Gerak konvergen
yaitu berupa gerakan saling bertumbukan antar lempeng tektonik, baik lempeng
benua maupun lempeng samudra. Beberapa pegunungan seperti Himalaya muda, Alpen,
Rocky dan Andes disebut merupakan relief yang terbentuk akibat proses
konvergensi ini. Ada tiga jenis gerakan konvergen yaitu:
- Subduksi :
Pergerakan konvergen antara lempeng benua dan lempeng samudera, dengan lempeng
samudera jatuh di bawah lempeng benua, karena gravitasi spesifik lempeng benua
kurang dari lempeng samudera. Contohnya adalah parit yang membentang dari barat
Sumatera, selatan
Jawa, ke selatan
Nusa Tenggara.
- Obduksi :
Pergerakan konvergen diantara kerak benua dan kerak samudera, tempat kerak
benua tenggelam/ menunjam di bawah kerak samudera. Penunjaman ini terjadi yakni
karena adanya perubahan dari batas lempeng divergen kemudian menjadi konvergen,
menimbulkan terjadinya kerak benua berbenturan dengan kerak samudera.
- Kolisi : Gerakan
konvergen antara lempeng benua dan lempeng benua. Kedua pelat memiliki massa
jenis yang tidak berbeda untuk membentuk pegunungan yang tinggi, seperti
Pegunungan Himalaya.
b) Gerak divergen,
yaitu Gerakan lempeng dimana lempeng bergerak saling menjauh, dengan gaya yang
bekerja pada gerakan ini adalah gaya tarik (tensional). Perbedaan ini
menyebabkan magma naik dari pusat bumi, membentuk dasar lautan atau kerak
samudera. Contohnya adalah MOR (Mid Ocean Ridges) di dasar Samudera Atlantik;
c) Sesar Mendatar
(Transform), yaitu gerakan berlawanan arah yang menyebabkan terjadinya
pergesekan antar lempeng tektonik. Sesar San Andreas yang terbentang sepanjang
1.200 km merupakan salah satu relief yang terbentuk akibat adanya proses
transform ini.